Senin, 10 Maret 2014

kepemimpinan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Dalam sejarah kita sudah mempelajari apa itu kepemimpinan dan apa yang bukan kepemimpinan. Meskipun ribuan penelitian telah dilakukan, masih banyak hal yang belum kita ketahui. Kita akan melihat bagaimana kepemimpinan dalam sejarah dan kepemimpinan dalam sudut kontemporer. Dalam prosesnya, kita berfokus pada konsep kepemimpinan yang baru tumbuh dan penerapannya.
Meskipun kepemimpinan memiliki banyak aspek, para peneliti bidang organisasi dan para ilmuwan perilakuberfokus pada dua jenis isu kepemimpinan yang paling penting: (1) mengapa sebagian anggota organisasi menjadi pemimpin sedangkan yang lainnya tidak, dan (2) mengpa sebagian pemimpin berhasil, sedangakn sebagian lainnya gagal. Kedua hal ini dianggap penting karena kepemimpina merupakan suatu yang vital, yang menghidupkan organisasi. Beberapa ahli menyatakan pendapat bahwa ketika kelompok, tim, atau organisasi mencapai kesuksesan, para pemimpinnya cenderung mendapat pujian yang berlebihan, dan sebaliknya, ketika organisasi gagal, para pemimpin mendapat kecaman terlalu besar. Meskipun demikian, pemimpin memang membuat perbedaan, dan kepemimpinan alah variable penting dalam membentukkeefektifan organisasi.

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan Kepemimpinan ?
2.      Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Trait tentang Kepemimpinan ?
3.      Jelaskan dua pendekatan perilaku terhadap Kepemimpinan ?
4.      Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Situasional ?
5.      Jelaskan beberapa hal yang dapat menggantikan Kepemimpinan ?

1.3  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui arti Kepemimpinan.
2.      Untuk mengetahui Pendekatan Trait tentang Kepemimpinan.
3.      Untuk mengetahui tentang dua pendekatan perilaku terhadap Kepemimpinan.
4.      Untuk mengetahui tantang Pendekatan Situasional.
5.      Untuk mengetahui beberapa hal yang dapat menggantikan Kepemimpinan.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  DEFINISI KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memfasilitasi pencapaian tujuan organisasi yang relevan. Menampilkan kepemimpinan tidak mengharuskan seseorang berada pada posisi pemimpin formal.tiga variable penting yang ada dalam situasi kepemimpinan adalah orang, tugas, dan lingkungan.
Kepemimpinan mempunyai beberapa cirri umum, sebagai contoh Warren Bennis, yang selama beberapa decade meneliti masalah kepemimpinan, menyimpulkan bahwa seluruh pemimpin dari kelompok yang efektif memiliki empat cirri utama berikut :
1.   Mereka memberikan arahan dan arti bagi orang orang yang mereka pimpin. Artinya mereka bisa mengingatkan para pengikutnya akan hal-hal yang penting dan membimbing pengikutnya menyadari apa yang mereka lakukan mampu membuat perbedaan penting.
2.   Mereka menumbuhkan kepercayaan.
3.   Mereka mendorong tindakan dan pengambilan risiko. Mereka proaktif dan berani gagal demi meraih kesuksesan.
4.   Mereka memberikan harapan. Dengan cara yang nyata atau simbolis mereka menyatakan bahwa kesuksesan akan dapat diraih.

2.2  PENDEKATAN TRAIT TENTANG KEPEMIMPINAN
Pendekatan trait terhadap kepemimpinan terfokus pada identifikasi trait intelektual, emosional, fisik, dan trait kepribadian yang lain dan dari seorang pemimpin yang efektif. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa seorang pemimpin yang efektif pasti memiliki sejumlah trait khusus. Tes-tes yang digunakan dalam menyaring calon karyawan adalah bentuk tes yang menggunakan teori trait tentang kepemimpinan. Selain diungkap dalam tes, trait seorang pemimpin juga dapat diukur melalui observasi perilaku dalam situasi kelompok, dari pilihan dari rekan, nominasi atau rating dari pengamat, dan analisis data biografi.



Intelegensi
Dalam penelahaan terhadap 33 penelitian, Ralph Stogdill menemukan bahwa pemimpin harus lebih cerdas dari orang yang dipimpin. Namun salah satu penemuan yang penting adalah bahwa perbedaan intelegensi yang terlalu besar antara pemimpin atau orang yang dipimpin justru merugikan. Sebagai contoh andaikata seorang pemimpin mamiliki IQ yang relative tinggi sedangkan anak buahnya memiliki IQ rata-rata. Pemimpin itu akan sulit memahami mengapa anggota kelompoknya tidak bisa memahami permasalahan yang dihadapi. Selain itu, pemimpin yang terlampau cerdas mungkin menjumpai kesulitam dalam mengkomunikasikan ide dan kebijakan kepada para bawahannyayang kecerdasannya jauh di bawahnya.

Kepribadian
Edwin Ghiselli mengidentifikasi beberapa trait kepribadian yang diasosiasikan dengan keefektifan seorang pemimpin. Sebagai contoh, ia menemukan bahwa kemampuan mengambil tindakan secara mandiri berkorelasi dengan posisi atau jabatan seseorang responden dalam organisasi. Semakin tinggi posisi sesesorang dalam organisasi, semakin penting trait ini. Ghiselli juga menemukan bahwa keyakinan diri berhubungan dengan posisi hierarkis dalam organisasi. Dan yang terakhir, Ghiselli menemukan bahwa orang yang menunjukkan individualitas ternyata menjadi pemimpin yang paling efektif

Karakteristik fisik
Penelitian tentang hubungan antar kepemimpinan yang efektif dan karakteristik fisik seperti usia, tinggi badan, berat badan, dan penampilan menunjukkan hasil yang kontradiktif. Tubuh lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan rata-rata anggota kelompok yang lain, justru tidak menguntungkan untuk mencapai posisi pemimpin. Meskipun demikian, ada beberapa organisasi yang percaya bahwa orang dengan fisik yang besar diperlukan untuk mendapatkan kepatuhan dari para pengikutnya. Keyakinan ini terkait dengan kekuatan koersif. Meskipun demikian, Truman, Gandhi, Napoleon, dan Stalin adalah contoh individu berpostur kecil yang mencapai jenjang kepemimpinan yang tinggi.


Kemampuan supervise
Dengan menggunakan skala penilaian kinerja pemimpin, Ghiselli menemukan adanya hubungan positif antara kemampuan supervise dan level hierarkis organisasi. Kemampuan supervise didevinisikan sebagai “penggunaan praktik supervise secara efektif dalam situasi apapun yang menuntut kehadiran seorang penyelia (supervisor)”. Meskipun demikian, cara pengukuran yang valid terhadap konsep ini belum ditemukan- dan menemukan cara ini adalah masalah yang tidak mudah.

2.3  DUA PENDEKATAN PERILAKU TERHADAP KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan Yang Terfokus Pada Pekerjaan Dan Terfokus Pada Karyawan
Pada tahun 1947, Rensis Likert mempelajari cara terbaik memimpin usaha para individu agar mencapi kinerja dan kepuasan yang diharapkan. Tujuan utama tentang kepemimpinan ini, dilakukan oleh tim terinspirasi oleh Likert di Universitas Michigan adalah menemukan prinsip dan metode kepemimpinan yang efektif. Kriteria keefektifan yang digunakan dalam banyak penelitian adalah :
1.      Produktivitas per jam kerja
2.      Kepuasan kerja dari anggota organisasi
3.      Tingkat turnover karyawan
4.      Biaya
5.      Hasil produksi cacat
6.      Motivasi pegawai dan manajer.
Melalui serangkaian wawancara terhadap pemimpindan pengikut, para peneliti menidentifikasi dua gaya kepemimpinan yang berbeda : berorientasi pekerjaan (job centered) dan berorientasi pegawai (employee-centered). Pemimpin dengan gaya job centered berfokus pada penyelesaian pekerjaan dan menerapkan supervise yang ketat sehingga bawahan melakukanmenggunakn prosedur yang spesifik. Pemimpin dengan gaya employee-centered berfokos pada bawahannya yang melakukan tugas dan membantu bawahannya dalam memenuhi kebutuhan mereka dengan menciptakan lingkungan kerja yang suportif. Pemimpin yang bergaya employee-centeredpeduli terhadap perkembangan, pertumbuhan dan pencapaian pribadi para pengikutnya. Pemimpin yang seperti ini menekankan perkembangan individu dan kelompok, dengan harapan bahwa kinerja pengikutnya akan meningkat dengan sendirinya.

Inisiasi Struktur dan Konsiderasi
Penelitian yang dilakukan oleh Edwin Fleishman dan koleganya di Ohio State University menghasilkan teori dua factor kepemimpinan. Serangkaian penelitian berhasil menunjukkan adanya dua factor kepemimpinan yakni inisiasi struktur dan konsidersi. Inisiasi struktur adalah perilaku dimana pemimpin mengatur dan mendefinisikan hubungan dalam kelompok, cenderung membuat pola yang baku dan menyalurkan komunikasi, serta mengatur bagaimana sebuah tugas dilakukan. Pemimpin dengan kecenderungan inisiasi struktur yang tinggi berfokus pada target dan hasil. Konsiderasi adalah perilaku yang menunjukkan persahabatan, saling percaya, rasa hormat, hangat, dan penjalinan rapport antara pemimpin dan pengikut. Pemimpin pemimpin dengan tingkat konsidersi yang tinggi mendukung komunikasi terbuka dan partisipasi.

2.4  PENDEKATAN SITUASIONAL
Teori ini menyatakan bahwa keefektifan sebuah kepemimpinan adalah fungsi dari berbagai aspek situasi kepemimpinan.

A.     Model Kontigensi Kepemimpinan Dari Fiedler
Model ini dikembangkan oleh Fiedler dan memberikan postulat bahwa kinerja kelompok tergantung pada interaksi antara gaya kepemimpinan dan keuntungan situasional. Gaya kepemimpinan diukur dengan Least Preffered Co-Worker Scale (LPC), sebuah instrument yang dikembangkan Fiedler, yang mengukur tingkat perasaan positif atau negative yang dimiliki seseorang terhadap orang lain yang paling tidak dipilih untuk bekerja sama. Nilai yang rendah dalam LPC dianggap sebagai gaya kepemimpinan yang task oriented yaitu gaya yang mengontrol dan terstruktur. Nilai yang tinggi diasosiasikan dengan gaya kepemimpinan yang relationship oriented, yaitu gaya pasif dan memiliki kepedulian.
Fiedler mengajukan tiga factor yang menentukan seberapa menguntungkan lengkungan yang dimiliki seorang pemimpin, atau tingkat keuntungan situasional :
1.      Hubungan Pemimpin-Pengikut. Menunjukkan tingkat kepercayaan, keyakinan, dan rasa hormat yang dimiliki pengikut terhadap pemimpin mereka.
2.      Struktur Tugas. Adalah factor kedua terpenting yang menunjukkan sejauh mana tugas yang dilakukan para pengikut terstruktur.
3.      Position Power. Merupakan kekuatan yang dimiliki oleh posisi pemimpin. Umumnya otoritas yang lebih tinggi merupakan tanda position power yang lebih tinggi.

B.     Model Kepemimpinan Vroom-Jago
Victor Vroom dan Pilliph Yetton pada awalnya mengembangkan model kepemimpinan dan pengambilan keputusan yang menetapkan situasi yang cocok untuk jenis pengambilan keputusan yang partisipatif. Vroom dan Yetton berusaha membuat model normative yang dapat digunakan pemimpin untuk mengambil keputusan. Asumsi pendekatan mereka adalah tidak adanya gaya kepemimpinan tunggal yang sesuai untuk semua situasi, maka pemimpin harus fleksibel untuk mengubah gaya kepemimpinan agar sesuai situasi spesifik. Dalam mengembangkan model ini, Vroom an Yetton membuat beberapa asumsi :
1.      Model ini harus dapat memberikan kepada para pemimpin, gaya yang harus dipakai dalam berbagai situasi.
2.      Tidak ada satu gaya yang dapat dipakai pada segala situasi.
3.      Focus utama harus dilakukan pada masalah yang akan dihadapi dan situasi tidak dimana masalah ini terjadi.
4.      Gaya kepemimpinan yang digunakan pada satu situsi tidak boleh membatasi gaya yang dipakai dalam situasi yang lain.
5.      Beberapa prose social berpengaruh pada tingkat partisipasi dari bawahan dalam pemecahan masalah.

Keefektifan Keputusan
Pemilihan proses pengambilan keputusan yang sesuai melibatkan dua criteria keefektifan keputusan: kualitas keputusan dan komitmen bawahan. Kualitas keputusan berkaitan sejauh mana keputusan mempengaruhi kinerja kerja. Komitmen bawahan berkaitan dengan seberapa penting bawahan berkomitmen atau menerima keputusan agar keputusan tersebut dapat diimplementasikan.

Gaya Keputusan
Model Vroom-Jago membedakan dua tipe situasi keputusan yang dihadapi oleh pemimpin: individu dan kelompok. Situasi keputusan individu adalah keputusan yang hanya mempengaruhi satu pengikut. Situasi keputusan yang mempengaruhi beberapa pengikut diklasifikasikan sebagai keputusan kelompok.

Prosedur Diagnostik
Untuk menentukan gaya pengambilan keputusanyang paling tepat untuk setiap situasi tertentu, Vroom menyarankan pemimpin membuat diagnosis situasi.

Aplikasi Model
Aplikasi sebenarnya dari model ini dapat berbeda secara signifikan, tergantunga dari tingkat kompleksitas, kerumitan, dan spesifikasinya, tergantung dari tujuan tertentu dimana model ini digunakan atau tergantung dari kebutuhan pengambil keputusan. Dalam bentuk yang paling simple, aplikasi model ini dapat dilihat menggunakan sebuah set aturan dasar pengambilan keputusan.

Validitas Model
Model ini dianggap konsisten dengan apa yang sekarang kita ketahui mengenai keuntungan dan kerugian dari partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan.

C.     Model kepemimpinan Jalur-Tujuan
Model kepemimpinan jalur tujuan berusaha memprediksi keefektifan kepemimpinan dalam berbagai situasi. Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena efek positif yang mereka berikan terhadap motivasi para pengikut, kinerja, dan kepuasan. Teori ini dianggap sebagai path-goal karena terfokus pada bagaimana pemimpin mempengaruhi persepsi dari pengikutnya tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan jalur yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Teori awal dari path-goal menyatakan bahwa pemimpin efektif adalah pemimpin yang bagus dalam memberikan imbalan pada bawahan dan membuat imbalan tersebut menjadi satu- kesatuan dengan pencapaian bawahan terhadaptujuan yang spesifik. Ada dua variable situasi atau kontingensi pada teori path-goal. Variable ini adalah karakteristik pribadi bawahan dan tuntutan serta tekanan dari lingkungan yang harus diatasi oleh bawahan untuk mencapai target kerja dan mendapat kepuasan. Karakteristik pribadi yang penting adalah persepsi bawahan mengenai kemampuan mereka sendiri. Semakin tinggi tingkat persepsi bawahan terhadap kemampuan mereka memenuhi tuntutan kerja, semakin kecil kemungkinan bawahan menerima gaya kepemimpinan direktif. Variable lingkungan adalah faktor- faktor yang berada di luar kontrol para bawahan tetapi berperan penting terhadap kepuasan atau kemampuan bekerja dengan efektif. Setiap factor lingkungan ini dapat memotivasi atau menghambat bawahan. Faktor lingkungan ini juga dapat menjadi imbalan atas level kinerja yang baik.

D.    Model Kepemimpinan Situasional Hersey-Blancard
Hersey-Blancard telah mengembangkan model kepemimpinan situasional yang diyakini ssesuai untuk kebanyakan manajer. SLM memberikan penekana lebih pada pengikut dan tingkat kematangan mereka. Para pemimpin harus bisa menilai dengan tepat atu menilai secara intuitif tingkat kematangan dari pengikut mereka dan menggunakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kematangan tersebut. Kesiapan didefinisikan sebagai kemampuan dan kesediaan seorang untuk mengambil tanggung jawab untuk mengatur perilaku mereka. Ada dua tipe kesiapan yang dipandang penting: pekerjaan dan psikologis. Seseorang yang memiliki kesiapan kerja yang tinggi memiliki pengetahuan dan kemampuan melakukan tugas tanpa perlu arahan dari manajer. Seseorang dengan tingkat kesiapan psikologis yang tinggi memiliki motivasi diri dan keinginan untuk melakukan kerja berkualitas tinggi.
Hersey dan Blancard menggunakan penelitian OSU untuk kemudian mengembangkan empat gaya kepemimpinan yang bisa dipakai oleh para manajer:
1.      Telling- menyuruh, pemimpin menetapkan peran yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas dan memerintahkan para pengikutnya apa, di mana, bagaimana, dan kapan melakukan tugas tersebut.
2.      Selling- menjual, pemimpin memberikan instruksi terstruktur, tetapi juga bersikap suportif.
3.      Participating- berpartisipasi, pemimpin dan pengikutnya bersama-sama memutuskanbagaimana cara terbaik menyelesaikan tugas yang berkualitas.
4.      Delegating – delegasi, pemimpin tidak banyak memberikan arahan yang jelas dan spesifik ataupun dukungan pribadi kepada para pengikut.

2.5  HAL YANG DAPAT MENGGANTIKAN KEPEMIMPINAN
Penggatnti kepemimpinan ini antara lain adalah karakteristik tugas, organisasi, atau bahwahan yang membuat kepemimpinan yang berorientasi hubungan dan atau berorientasi tugas menjadi tidak mungkin dilakukan atau bahkan tidak perlu. Konsep terkait hal ini adalah leadership neutralizer – sesuatu yang membuat kepemimpinan mustahil untuk membuat perbedaan.
Peneliti telah mengidentifikasi berbagai karakteristik dari tugas, lingkungan, dan organisasi sebagai faktor pengganti kepemimpinan yang mempengaruhi hubungan antara perilaku pemimpin dengan kepuasan dan kinerja para pengikutnya. Beberapa faktor ini (contohnya, harapan pengikut terhadap perilaku pemimpin) sepertinya mempengaruhi gaya kepemimpinan yang seperti apa yang dapat membantu pemimpin memotivasi atau mengarahkan para pengikut. Sedangkah faktor yang lain, ternyata berfungsi sebagai pengganti kepemimpinan. Faktor pengganti ini cenderung menegasi kemampuan pemimipin untuk menaikan atau bahkan menurunkan kepuasan dan kinerja dari para pengikut.
BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memfasilitasi pencapaian tujuan organisasi yang relevan. Menampilkan kepemimpinan tidak mengharuskan seseorang berada pada posisi pemimpin formal.tiga variable penting yang ada dalam situasi kepemimpinan adalah orang, tugas, dan lingkungan.



DAFTAR PUSTAKA

Michael T. Matteson, John M. Ivancevich, Robert Konopaske, Perilaku dan Manajemen Organisasi, Edisi ke 7 jilid 2 tahun 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar