BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam sejarah kita sudah mempelajari apa itu
kepemimpinan dan apa yang bukan kepemimpinan. Meskipun ribuan penelitian telah
dilakukan, masih banyak hal yang belum kita ketahui. Kita akan melihat
bagaimana kepemimpinan dalam sejarah dan kepemimpinan dalam sudut kontemporer.
Dalam prosesnya, kita berfokus pada konsep kepemimpinan yang baru tumbuh dan
penerapannya.
Meskipun kepemimpinan memiliki banyak aspek, para
peneliti bidang organisasi dan para ilmuwan perilakuberfokus pada dua jenis isu
kepemimpinan yang paling penting: (1) mengapa sebagian anggota organisasi
menjadi pemimpin sedangkan yang lainnya tidak, dan (2) mengpa sebagian pemimpin
berhasil, sedangakn sebagian lainnya gagal. Kedua hal ini dianggap penting
karena kepemimpina merupakan suatu yang vital, yang menghidupkan organisasi.
Beberapa ahli menyatakan pendapat bahwa ketika kelompok, tim, atau organisasi
mencapai kesuksesan, para pemimpinnya cenderung mendapat pujian yang berlebihan,
dan sebaliknya, ketika organisasi gagal, para pemimpin mendapat kecaman terlalu
besar. Meskipun demikian, pemimpin memang membuat perbedaan, dan kepemimpinan
alah variable penting dalam membentukkeefektifan organisasi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang dimaksud
dengan Kepemimpinan ?
2.
Apa yang
dimaksud dengan Pendekatan Trait tentang Kepemimpinan ?
3.
Jelaskan dua
pendekatan perilaku terhadap Kepemimpinan ?
4.
Apa yang
dimaksud dengan Pendekatan Situasional ?
5.
Jelaskan
beberapa hal yang dapat menggantikan Kepemimpinan ?
1.3 TUJUAN
1.
Untuk mengetahui
arti Kepemimpinan.
2.
Untuk mengetahui
Pendekatan Trait tentang Kepemimpinan.
3.
Untuk mengetahui
tentang dua pendekatan perilaku terhadap Kepemimpinan.
4.
Untuk mengetahui
tantang Pendekatan Situasional.
5.
Untuk mengetahui
beberapa hal yang dapat menggantikan Kepemimpinan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain
untuk memfasilitasi pencapaian tujuan organisasi yang relevan. Menampilkan
kepemimpinan tidak mengharuskan seseorang berada pada posisi pemimpin
formal.tiga variable penting yang ada dalam situasi kepemimpinan adalah orang,
tugas, dan lingkungan.
Kepemimpinan mempunyai beberapa cirri umum, sebagai
contoh Warren Bennis, yang selama beberapa decade meneliti masalah
kepemimpinan, menyimpulkan bahwa seluruh pemimpin dari kelompok yang efektif
memiliki empat cirri utama berikut :
1.
Mereka
memberikan arahan dan arti bagi orang orang yang mereka pimpin. Artinya mereka
bisa mengingatkan para pengikutnya akan hal-hal yang penting dan membimbing
pengikutnya menyadari apa yang mereka lakukan mampu membuat perbedaan penting.
2.
Mereka
menumbuhkan kepercayaan.
3.
Mereka mendorong
tindakan dan pengambilan risiko. Mereka proaktif dan berani gagal demi meraih
kesuksesan.
4.
Mereka
memberikan harapan. Dengan cara yang nyata atau simbolis mereka menyatakan bahwa
kesuksesan akan dapat diraih.
2.2 PENDEKATAN TRAIT TENTANG KEPEMIMPINAN
Pendekatan trait terhadap kepemimpinan terfokus pada
identifikasi trait intelektual, emosional, fisik, dan trait kepribadian yang lain
dan dari seorang pemimpin yang efektif. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa
seorang pemimpin yang efektif pasti memiliki sejumlah trait khusus. Tes-tes
yang digunakan dalam menyaring calon karyawan adalah bentuk tes yang
menggunakan teori trait tentang kepemimpinan. Selain diungkap dalam tes, trait
seorang pemimpin juga dapat diukur melalui observasi perilaku dalam situasi
kelompok, dari pilihan dari rekan, nominasi atau rating dari pengamat, dan
analisis data biografi.
Intelegensi
Dalam
penelahaan terhadap 33 penelitian, Ralph Stogdill menemukan bahwa pemimpin
harus lebih cerdas dari orang yang dipimpin. Namun salah satu penemuan yang
penting adalah bahwa perbedaan intelegensi yang terlalu besar antara pemimpin
atau orang yang dipimpin justru merugikan. Sebagai contoh andaikata seorang
pemimpin mamiliki IQ yang relative tinggi sedangkan anak buahnya memiliki IQ
rata-rata. Pemimpin itu akan sulit memahami mengapa anggota kelompoknya tidak
bisa memahami permasalahan yang dihadapi. Selain itu, pemimpin yang terlampau
cerdas mungkin menjumpai kesulitam dalam mengkomunikasikan ide dan kebijakan
kepada para bawahannyayang kecerdasannya jauh di bawahnya.
Kepribadian
Edwin
Ghiselli mengidentifikasi beberapa trait kepribadian yang diasosiasikan dengan keefektifan
seorang pemimpin. Sebagai contoh, ia menemukan bahwa kemampuan mengambil
tindakan secara mandiri berkorelasi dengan posisi atau jabatan seseorang
responden dalam organisasi. Semakin tinggi posisi sesesorang dalam organisasi,
semakin penting trait ini. Ghiselli juga menemukan bahwa keyakinan diri
berhubungan dengan posisi hierarkis dalam organisasi. Dan yang terakhir,
Ghiselli menemukan bahwa orang yang menunjukkan individualitas ternyata menjadi
pemimpin yang paling efektif
Karakteristik
fisik
Penelitian
tentang hubungan antar kepemimpinan yang efektif dan karakteristik fisik
seperti usia, tinggi badan, berat badan, dan penampilan menunjukkan hasil yang
kontradiktif. Tubuh lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan rata-rata anggota
kelompok yang lain, justru tidak menguntungkan untuk mencapai posisi pemimpin.
Meskipun demikian, ada beberapa organisasi yang percaya bahwa orang dengan
fisik yang besar diperlukan untuk mendapatkan kepatuhan dari para pengikutnya.
Keyakinan ini terkait dengan kekuatan koersif. Meskipun demikian, Truman,
Gandhi, Napoleon, dan Stalin adalah contoh individu berpostur kecil yang
mencapai jenjang kepemimpinan yang tinggi.
Kemampuan supervise
Dengan
menggunakan skala penilaian kinerja pemimpin, Ghiselli menemukan adanya hubungan
positif antara kemampuan supervise dan level hierarkis organisasi. Kemampuan
supervise didevinisikan sebagai “penggunaan praktik supervise secara efektif
dalam situasi apapun yang menuntut kehadiran seorang penyelia (supervisor)”.
Meskipun demikian, cara pengukuran yang valid terhadap konsep ini belum
ditemukan- dan menemukan cara ini adalah masalah yang tidak mudah.
2.3 DUA PENDEKATAN PERILAKU TERHADAP KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan
Yang Terfokus Pada Pekerjaan Dan Terfokus Pada Karyawan
Pada tahun 1947, Rensis Likert mempelajari cara
terbaik memimpin usaha para individu agar mencapi kinerja dan kepuasan yang
diharapkan. Tujuan utama tentang kepemimpinan ini, dilakukan oleh tim
terinspirasi oleh Likert di Universitas Michigan adalah menemukan prinsip dan metode
kepemimpinan yang efektif. Kriteria keefektifan yang digunakan dalam banyak
penelitian adalah :
1.
Produktivitas
per jam kerja
2.
Kepuasan kerja
dari anggota organisasi
3.
Tingkat turnover
karyawan
4.
Biaya
5.
Hasil produksi
cacat
6.
Motivasi pegawai
dan manajer.
Melalui serangkaian wawancara terhadap pemimpindan
pengikut, para peneliti menidentifikasi dua gaya kepemimpinan yang berbeda :
berorientasi pekerjaan (job centered)
dan berorientasi pegawai (employee-centered).
Pemimpin dengan gaya job centered berfokus pada penyelesaian pekerjaan dan
menerapkan supervise yang ketat sehingga bawahan melakukanmenggunakn prosedur
yang spesifik. Pemimpin dengan gaya employee-centered berfokos pada bawahannya
yang melakukan tugas dan membantu bawahannya dalam memenuhi kebutuhan mereka
dengan menciptakan lingkungan kerja yang suportif. Pemimpin yang bergaya
employee-centeredpeduli terhadap perkembangan, pertumbuhan dan pencapaian
pribadi para pengikutnya. Pemimpin yang seperti ini menekankan perkembangan individu
dan kelompok, dengan harapan bahwa kinerja pengikutnya akan meningkat dengan
sendirinya.
Inisiasi
Struktur dan Konsiderasi
Penelitian yang dilakukan oleh Edwin Fleishman dan
koleganya di Ohio State University menghasilkan teori dua factor kepemimpinan.
Serangkaian penelitian berhasil menunjukkan adanya dua factor kepemimpinan
yakni inisiasi struktur dan konsidersi. Inisiasi struktur adalah
perilaku dimana pemimpin mengatur dan mendefinisikan hubungan dalam kelompok,
cenderung membuat pola yang baku dan menyalurkan komunikasi, serta mengatur
bagaimana sebuah tugas dilakukan. Pemimpin dengan kecenderungan inisiasi
struktur yang tinggi berfokus pada target dan hasil. Konsiderasi adalah
perilaku yang menunjukkan persahabatan, saling percaya, rasa hormat, hangat,
dan penjalinan rapport antara pemimpin dan pengikut. Pemimpin pemimpin dengan
tingkat konsidersi yang tinggi mendukung komunikasi terbuka dan partisipasi.
2.4 PENDEKATAN SITUASIONAL
Teori
ini menyatakan bahwa keefektifan sebuah kepemimpinan adalah fungsi dari
berbagai aspek situasi kepemimpinan.
A.
Model Kontigensi
Kepemimpinan Dari Fiedler
Model ini dikembangkan
oleh Fiedler dan memberikan postulat bahwa kinerja kelompok tergantung pada
interaksi antara gaya kepemimpinan dan keuntungan situasional. Gaya
kepemimpinan diukur dengan Least Preffered Co-Worker Scale (LPC), sebuah
instrument yang dikembangkan Fiedler, yang mengukur tingkat perasaan positif
atau negative yang dimiliki seseorang terhadap orang lain yang paling tidak
dipilih untuk bekerja sama. Nilai yang rendah dalam LPC dianggap sebagai gaya
kepemimpinan yang task oriented yaitu
gaya yang mengontrol dan terstruktur. Nilai yang tinggi diasosiasikan dengan
gaya kepemimpinan yang relationship
oriented, yaitu gaya pasif dan memiliki kepedulian.
Fiedler mengajukan tiga
factor yang menentukan seberapa menguntungkan lengkungan yang dimiliki seorang
pemimpin, atau tingkat keuntungan situasional :
1.
Hubungan
Pemimpin-Pengikut. Menunjukkan tingkat kepercayaan, keyakinan, dan rasa hormat
yang dimiliki pengikut terhadap pemimpin mereka.
2.
Struktur Tugas. Adalah
factor kedua terpenting yang menunjukkan sejauh mana tugas yang dilakukan para
pengikut terstruktur.
3.
Position Power.
Merupakan kekuatan yang dimiliki oleh posisi pemimpin. Umumnya otoritas yang
lebih tinggi merupakan tanda position power yang lebih tinggi.
B.
Model
Kepemimpinan Vroom-Jago
Victor Vroom dan
Pilliph Yetton pada awalnya mengembangkan model kepemimpinan dan pengambilan
keputusan yang menetapkan situasi yang cocok untuk jenis pengambilan keputusan
yang partisipatif. Vroom dan Yetton berusaha membuat model normative yang dapat
digunakan pemimpin untuk mengambil keputusan. Asumsi pendekatan mereka adalah
tidak adanya gaya kepemimpinan tunggal yang sesuai untuk semua situasi, maka
pemimpin harus fleksibel untuk mengubah gaya kepemimpinan agar sesuai situasi
spesifik. Dalam mengembangkan model ini, Vroom an Yetton membuat beberapa
asumsi :
1.
Model ini harus
dapat memberikan kepada para pemimpin, gaya yang harus dipakai dalam berbagai
situasi.
2.
Tidak ada satu
gaya yang dapat dipakai pada segala situasi.
3.
Focus utama
harus dilakukan pada masalah yang akan dihadapi dan situasi tidak dimana
masalah ini terjadi.
4.
Gaya
kepemimpinan yang digunakan pada satu situsi tidak boleh membatasi gaya yang
dipakai dalam situasi yang lain.
5.
Beberapa prose
social berpengaruh pada tingkat partisipasi dari bawahan dalam pemecahan
masalah.
Keefektifan Keputusan
Pemilihan proses pengambilan keputusan yang sesuai
melibatkan dua criteria keefektifan keputusan: kualitas keputusan dan komitmen
bawahan. Kualitas keputusan berkaitan sejauh mana keputusan mempengaruhi
kinerja kerja. Komitmen bawahan berkaitan dengan seberapa penting bawahan
berkomitmen atau menerima keputusan agar keputusan tersebut dapat
diimplementasikan.
Gaya Keputusan
Model Vroom-Jago membedakan dua tipe situasi
keputusan yang dihadapi oleh pemimpin: individu dan kelompok. Situasi keputusan
individu adalah keputusan yang hanya mempengaruhi satu pengikut. Situasi
keputusan yang mempengaruhi beberapa pengikut diklasifikasikan sebagai
keputusan kelompok.
Prosedur Diagnostik
Untuk menentukan gaya pengambilan keputusanyang
paling tepat untuk setiap situasi tertentu, Vroom menyarankan pemimpin membuat
diagnosis situasi.
Aplikasi Model
Aplikasi sebenarnya dari model ini dapat berbeda
secara signifikan, tergantunga dari tingkat kompleksitas, kerumitan, dan
spesifikasinya, tergantung dari tujuan tertentu dimana model ini digunakan atau
tergantung dari kebutuhan pengambil keputusan. Dalam bentuk yang paling simple,
aplikasi model ini dapat dilihat menggunakan sebuah set aturan dasar
pengambilan keputusan.
Validitas Model
Model ini dianggap konsisten dengan apa yang
sekarang kita ketahui mengenai keuntungan dan kerugian dari partisipasi bawahan
dalam pengambilan keputusan.
C.
Model
kepemimpinan Jalur-Tujuan
Model kepemimpinan
jalur tujuan berusaha memprediksi keefektifan kepemimpinan dalam berbagai
situasi. Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena efek positif yang
mereka berikan terhadap motivasi para pengikut, kinerja, dan kepuasan. Teori
ini dianggap sebagai path-goal karena terfokus pada bagaimana pemimpin
mempengaruhi persepsi dari pengikutnya tentang tujuan pekerjaan, tujuan
pengembangan diri, dan jalur yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Teori awal dari
path-goal menyatakan bahwa pemimpin efektif adalah pemimpin yang bagus dalam
memberikan imbalan pada bawahan dan membuat imbalan tersebut menjadi satu-
kesatuan dengan pencapaian bawahan terhadaptujuan yang spesifik. Ada dua
variable situasi atau kontingensi pada teori path-goal. Variable ini adalah karakteristik
pribadi bawahan dan tuntutan serta tekanan dari lingkungan yang harus diatasi
oleh bawahan untuk mencapai target kerja dan mendapat kepuasan. Karakteristik
pribadi yang penting adalah persepsi bawahan mengenai kemampuan mereka sendiri.
Semakin tinggi tingkat persepsi bawahan terhadap kemampuan mereka memenuhi
tuntutan kerja, semakin kecil kemungkinan bawahan menerima gaya kepemimpinan
direktif. Variable lingkungan adalah faktor- faktor yang berada di luar kontrol
para bawahan tetapi berperan penting terhadap kepuasan atau kemampuan bekerja
dengan efektif. Setiap factor lingkungan ini dapat memotivasi atau menghambat
bawahan. Faktor lingkungan ini juga dapat menjadi imbalan atas level kinerja
yang baik.
D.
Model
Kepemimpinan Situasional Hersey-Blancard
Hersey-Blancard telah
mengembangkan model kepemimpinan situasional yang diyakini ssesuai untuk
kebanyakan manajer. SLM memberikan penekana lebih pada pengikut dan tingkat kematangan
mereka. Para pemimpin harus bisa menilai dengan tepat atu menilai secara
intuitif tingkat kematangan dari pengikut mereka dan menggunakan gaya
kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kematangan tersebut. Kesiapan
didefinisikan sebagai kemampuan dan kesediaan seorang untuk mengambil tanggung
jawab untuk mengatur perilaku mereka. Ada dua tipe kesiapan yang dipandang
penting: pekerjaan dan psikologis. Seseorang yang memiliki kesiapan kerja yang
tinggi memiliki pengetahuan dan kemampuan melakukan tugas tanpa perlu arahan
dari manajer. Seseorang dengan tingkat kesiapan psikologis yang tinggi memiliki
motivasi diri dan keinginan untuk melakukan kerja berkualitas tinggi.
Hersey dan Blancard
menggunakan penelitian OSU untuk kemudian mengembangkan empat gaya kepemimpinan
yang bisa dipakai oleh para manajer:
1.
Telling-
menyuruh, pemimpin menetapkan peran yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas
dan memerintahkan para pengikutnya apa, di mana, bagaimana, dan kapan melakukan
tugas tersebut.
2.
Selling-
menjual, pemimpin memberikan instruksi terstruktur, tetapi juga bersikap
suportif.
3.
Participating-
berpartisipasi, pemimpin dan pengikutnya bersama-sama memutuskanbagaimana cara
terbaik menyelesaikan tugas yang berkualitas.
4.
Delegating –
delegasi, pemimpin tidak banyak memberikan arahan yang jelas dan spesifik
ataupun dukungan pribadi kepada para pengikut.
2.5 HAL YANG DAPAT MENGGANTIKAN KEPEMIMPINAN
Penggatnti kepemimpinan
ini antara lain adalah karakteristik tugas, organisasi, atau bahwahan yang
membuat kepemimpinan yang berorientasi hubungan dan atau berorientasi tugas
menjadi tidak mungkin dilakukan atau bahkan tidak perlu. Konsep terkait hal ini
adalah leadership neutralizer – sesuatu yang membuat kepemimpinan mustahil
untuk membuat perbedaan.
Peneliti telah mengidentifikasi
berbagai karakteristik dari tugas, lingkungan, dan organisasi sebagai faktor
pengganti kepemimpinan yang mempengaruhi hubungan antara perilaku pemimpin
dengan kepuasan dan kinerja para pengikutnya. Beberapa faktor ini (contohnya,
harapan pengikut terhadap perilaku pemimpin) sepertinya mempengaruhi gaya
kepemimpinan yang seperti apa yang dapat membantu pemimpin memotivasi atau
mengarahkan para pengikut. Sedangkah faktor yang lain, ternyata berfungsi
sebagai pengganti kepemimpinan. Faktor pengganti ini cenderung menegasi
kemampuan pemimipin untuk menaikan atau bahkan menurunkan kepuasan dan kinerja
dari para pengikut.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kepemimpinan
adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memfasilitasi pencapaian tujuan
organisasi yang relevan. Menampilkan kepemimpinan tidak mengharuskan seseorang
berada pada posisi pemimpin formal.tiga variable penting yang ada dalam situasi
kepemimpinan adalah orang, tugas, dan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Michael T. Matteson, John M. Ivancevich, Robert
Konopaske, Perilaku dan Manajemen Organisasi, Edisi ke 7 jilid 2 tahun 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar